We use cookies to understand how you use our site and to improve your experience. This includes personalizing content and advertising. By continuing to use our site, you accept our use of Cookies, Privacy Policy Term of use.
Video Player is loading.
Current Time 0:00
Duration -:-
Loaded: 0%
Stream Type LIVE
Remaining Time 0:00
 
1x
42 views • July 15, 2021

Nelayan Filipina Berhadapan dengan Kapal Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan

NTD Indonesia
NTD Indonesia
Nelayan Filipina Berhadapan dengan Kapal Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan Nelayan Filipina berhadapan dengan pemerintah Tiongkok, di lepas pantai Filipina, di Laut Tiongkok Selatan. Itu adalah salah satu perairan yang paling diperebutkan di dunia, kaya akan sumber daya alam dan rumah bagi rute perdagangan yang berharga. Jadi siapa yang memiliki kedaulatan atas perairan ini? Tiongkok mengklaim sebagian besar laut itu sebagai miliknya, termasuk hamparan air di Zona Ekonomi Eksklusif Filipina ini, yang membentang 200 mil laut dari pantainya. 5 tahun lalu, putusan pengadilan internasional di Den Haag memenangkan Filipina. Tapi Tiongkok menolak putusan itu, dan mempertahankan klaimnya atas wilayah tersebut yang ditandai dengan apa yang disebut 'Sembilan Garis Putus-Putus'. Selain Filipina, Sembilan Garis Putus-Putus juga disengketakan oleh Brunei, Malaysia, Taiwan dan Vietnam. Tapi Tiongkok tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur, dan terus melakukan serangan militer. Situasi ini membuat nelayan seperti Randy Megu takut akan mata pencaharian mereka. Biasanya mereka menangkap 4 hingga 5 ton ikan dalam waktu kurang dari seminggu. Kini, jika mereka beruntung, mungkin hanya beberapa ember. Megu berkata, Tiongkok semakin agresif, mengirim lebih banyak kapalnya ke daerah itu. 70% orang Filipina ingin pemerintah mereka menegaskan klaimnya, - menurut jajak pendapat tahun lalu. Presiden Filipina, Rodrigo Duterte menjadikannya isu kampanye pada 2016. Tapi pemimpin 'revolusioner' itu telah mengubah nadanya sejak terpilih. Hubungan dengan Tiongkok kini menjadi inti dari kebijakan luar negerinya, dan dia menyebut 'tidak berguna' untuk menantang tetangga besar mereka. Setelah beberapa kabinetnya meningkatkan retorika awal tahun ini, Duterte melarang mereka berbicara. Para nelayan berharap untuk mengamankan lahan mereka setelah putusan 2016. Tapi tanpa penegakan, mereka melihat sedikit harapan untuk perubahan. Sumber tautan terkait: https://www.reutersconnect.com/all?id=tag%3Areuters.com%2C2021%3Anewsml_WDELJIDM3&share=true ------ Penjelasan tentang istilah “Virus Partai Komunis Tiongkok (Virus PKT)” New Tang Dynasty (NTD) Television menggunakan istilah “Virus Partai Komunis Tiongkok” atau “Virus PKT” sebagai pengganti dari istilah “COVID-19” atau “Virus Korona Baru”, akibat dari tindakan menutup-nutupi Partai Komunis Tiongkok di awal penyebaran virus dan menyebabkan pandemi global. Editorial The Epoch Times berbahasa Inggris yang merupakan media afiliasi NTD juga mengungkapkan bahwa penggunaan nama “Virus PKT” diperlukan untuk membedakan para ‘korban virus’ (warga Tiongkok dan dunia) dari ‘pihak yang mengorbankan’ (Partai Komunis Tiongkok) Donasi dukung kami ☛ https://ntdindonesia.com/donasi/ Lebih banyak berita dan artikel ☛ https://ntdindonesia.com/ Terhubung dengan kami di Safechat ☛ https://safechat.com/channel/2790461463648540578 Terhubung dengan kami di Facebook ☛ https://facebook.com/ntdindonesia/ Terhubung dengan kami di Telegram ☛ https://t.me/ntdindo Saksikan juga video kami di ☛ https://www.youmaker.com/c/G8zrx28kkA0K Saksikan juga video kami di ☛ https://www.dailymotion.com/ntdindonesia Video inspirasi setiap hari ☛ https://www.youtube.com/ntdkehidupan Video inspirasi setiap hari ☛ https://www.dailymotion.com/ntdkehidupan #filipina #lauttiongkokselatan #konflikdinatuna #militer #indonesia #tiongkok #ancaman #cina #china #pkt #partaikomunistiongkok #lautcinaselatan #hukum #kedaulatan #konflik #natuna #sengketa #laut #nelayan
Show All
Comment 0