We use cookies to understand how you use our site and to improve your experience. This includes personalizing content and advertising. By continuing to use our site, you accept our use of Cookies, Privacy Policy Term of use.
Video Player is loading.
Current Time 0:00
Duration 0:00
Loaded: 0%
Stream Type LIVE
Remaining Time 0:00
 
1x
68 views • March 18, 2022

Kisah Orang Uighur Mantan Pembawa Obor Olimpiade Beijing

NTD Indonesia
NTD Indonesia
14 tahun terpisah, dua orang Uighur dari Xinjiang membawa api Olimpiade di Beijing. Salah satunya sekarang berada di AS, sementara Ayahnya dikurung di penjara Tiongkok. Kami duduk bersamanya untuk mendengarkan pendapatnya tentang Olimpiade tahun ini. Seorang atlet Uighur yang tersenyum, tampil dalam sorotan pada upacara Pembukaan Olimpiade Musim Dingin di Beijing, Jumat lalu. Tapi apakah itu pesan yang menyenangkan tentang persatuan etnis di Tiongkok? Atau, di mata mereka yang tertindas: Sebuah langkah politik untuk menutupi apa yang terjadi di wilayah Xinjiang Tiongkok, di mana Partai Komunis yang berkuasa dituduh melakukan pelanggaran HAM yang meluas. Kamalturk Yalqun, seorang mantan pembawa obor Uighur, sekarang menjadi pembangkang, menyebut pemilihan Beijing atas rekannya, untuk Olimpiade tahun ini, adalah "bentuk boneka yang ditinggikan." dan mengatakan Tiongkok "tidak memiliki posisi" untuk menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin. Ini, setelah laporan mengatakan Beijing memperburuk penindasannya terhadap minoritas Uighur, serta menyebabkan penderitaan besar bagi keluarganya. Kembali pada tahun 2008, Yalqun adalah seorang siswa bintang, dipilih untuk membantu membawa api Olimpiade ketika Beijing menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas. Saat itu, dia mengingat tekanan negara pada Uighur untuk berasimilasi, sebagai hal yang menjijikkan, namun relatif dapat ditoleransi, jadi dipilih untuk mewakili tidak hanya Tiongkok, tapi juga Uighur, di acara internasional. Yalqun mengatakan dia "sangat terhormat" untuk membawa obor, meskipun kecewa, penyelenggara tidak membiarkan dia berlari mengenakan topi Uighur. Tapi orang-orang Uighur bangga dengan identitas etnis, bahasa serta budaya mereka, jadi upaya Partai Komunis Tiongkok untuk asimilasi tidak berhasil. Jadi PKT mengubah taktiknya. Kini, Yalqun mengatakan Tiongkok memiliki tujuan yang jauh lebih besar. Menggunakan proyek infrastruktur global Beijing, Inisiatif Sabuk dan Jalan, Tiongkok menginginkan kontrol yang cepat dan total atas wilayah Xinjiang, karena kepentingan geografisnya terhadap proyek tersebut. Jadi Beijing meningkatkan penindasannya, dimulai dengan menghapuskan pendidikan bahasa Uighur. Dalam propagandanya, Beijing menggambarkan para penulis dan editor buku teks berbahasa Uighur, sebagai mengubah anak-anak Uighur menjadi apa yang disebut 'teroris'. Akibatnya, Ayah Yalqun ditangkap, bersama rekan-rekannya. Mereka didakwa atas tuduhan bahwa pekerjaan mereka mengedit buku teks adalah "subversif." Meski buku-buku tersebut sudah dipakai bertahun-tahun di sekolah. Saat itu, Yalqun dan seluruh keluarganya telah pergi ke AS untuk belajar di luar negeri. Mereka belum kembali ke Tiongkok, atau mendengar kabar dari Ayah Yalqun sejak itu. Sumber tautan terkait: https://apnews.com/article/winter-olympics-beijing-uyghur-boycott-cd07c6dcbdaa1fcef818d9d5ee03362b https://www.wsj.com/articles/uyghur-torch-bearer-at-olympics-evokes-memories-of-2008-for-countryman-11644020974 https://www.aljazeera.com/news/2022/2/5/beijing-winter-olympics-china-uighur-torchbearer https://www.theguardian.com/world/2021/apr/09/china-uyghur-death-sentences-xinjiang-education-directors https://shahit.biz/eng/viewentry.php?entryno=965 https://www.rfa.org/english/news/uyghur/detainees-11232019223242.html https://www.reutersconnect.com/all?id=tag%3Areuters.com%2C2022%3Anewsml_KBN2KC21X%3A3&search=all%3AChina%27s%20use%20of%20Uyghur%20with%20Olympic%20torch%20can%27t%20distract%20from%20abuses%20-White%20House ------- Penjelasan tentang istilah “Virus Partai Komunis Tiongkok (Virus PKT)” New Tang Dynasty (NTD) Television menggunakan istilah “Virus Partai Komunis Tiongkok” atau “Virus PKT” sebagai pengganti dari istilah “COVID-19” atau “Virus Korona Baru”, akibat dari tindakan menutup-nutupi Partai Komunis Tiongkok di awal penyebaran virus dan menyebabkan pandemi global. Editorial The Epoch Times berbahasa Inggris yang merupakan media afiliasi NTD juga mengungkapkan bahwa penggunaan nama “Virus PKT” diperlukan untuk membedakan para ‘korban virus’ (warga Tiongkok dan dunia) dari ‘pihak yang m
Show All
Comment 0